sewaktu di Aceh, Mba Umi, teman relawan dari Pusat Krisis Psikologi UI mengajariku lagu ini:
bulan sabit di awan
laksana prahu emas
berlampu bintang
berlaut langit
jauh di angkasa luas
betapa senang hatiku rasanya menjadi nahkoda di sana
lagu itu, lagu anak-anak. iramanya indah menurutku. sayang tak bisa kudendangkan di sini.
gw jadi inget, dulu satu malam di Aceh ketika bulan sabit, sempat ada ribut-ribut. Laut pasang. orang di sekitar pantai panik. ada tsunami lagi katanya.
pada saat bulan purnama dan bulan sabit, laut memang menjadi pasang.
malam itu ketika isu tsunami membuat resah sebagian warga, daerah kami tenang-tenang saja. untuk menjaga ketertiban dan mencegah kepanikan meluas, beberapa ABRI dan petugas bersangkutan berkeliling menjelaskan kepada warga.
rombongan itu sampai juga ke tenda kami. malam itu, pertama kalinya aku lihat tentara membawa senjata. kedatangan mereka, menurutku, malah membuat situasi sedikit mencekam. dan baru saat itu, aku sadar aku di daerah konflik.
malam ini, bulan sabit lagi. Aceh. bagaimana kabarmu?
6/12/2005
6/11/2005
Untuk Seorang Kawan...
apa mauku apa maumu
selalu saja menjadi
satu masalah yang tak kunjung henti
bukan maksudku bukan maksudmu
untuk selalu
meributkan hal yang itu-itu saja
akhir-akhir ini gw sering denger lagu itu kawan. awalnya hanya kudendangkan iramanya. tapi waktu kudengar syairnya.. kaget juga. apalagi dengan apa yang sedang kita lewati. kadang gw merasa sangat senang kita bisa lagi tertawa. bersama. tapi kadang gw ngga tau di mana posisi gw dalam hidup lo. sebentar kita bercanda, sesaat lain 'keheningan' mencekam...
mengapa kita saling membenci
awalnya kita selalu memberi
apakah mungkin hati yg murni
sudah cukup berarti
ataukah kita belum mencoba
memberi waktu pada logika
jangan seperti selama ini
hidup bagaikan air dan api
kalau gw dengar lo sedih. gw pingin banget ada di samping lo. tapi.. itu seperti balik lagi ke dalam siklus yang tak pernah putus. tapi salah gw juga kalau gw bilang ingin keluar dari lingkar hidup lo. karena itu membuat kita tak pernah menemukan takaran yang pas untuk kita berdua. jika gw lelah berada dalam siklus itu. mungkin yang gw perlukan hanya beristirahat saja.
ah kawan (jika masih boleh kupanggil begitu) pertanyaan "apakah masih ada 'kita'?" g penting lagi buat gw. kita jalani saja. mungkin selama ini kita tak pakai logika? mungkin juga. mungkin juga karena gw yang perasa. mungkin juga. mungkin juga karena lo yang tak jelas apa mau mu. mungkin juga. banyak kemungkinan. mungkin juga kita memang air dan api. tapi terus kenapa?
selamat ulang tahun ya... jika gw jadi api... lo boleh deh meniupnya...
selalu saja menjadi
satu masalah yang tak kunjung henti
bukan maksudku bukan maksudmu
untuk selalu
meributkan hal yang itu-itu saja
akhir-akhir ini gw sering denger lagu itu kawan. awalnya hanya kudendangkan iramanya. tapi waktu kudengar syairnya.. kaget juga. apalagi dengan apa yang sedang kita lewati. kadang gw merasa sangat senang kita bisa lagi tertawa. bersama. tapi kadang gw ngga tau di mana posisi gw dalam hidup lo. sebentar kita bercanda, sesaat lain 'keheningan' mencekam...
mengapa kita saling membenci
awalnya kita selalu memberi
apakah mungkin hati yg murni
sudah cukup berarti
ataukah kita belum mencoba
memberi waktu pada logika
jangan seperti selama ini
hidup bagaikan air dan api
kalau gw dengar lo sedih. gw pingin banget ada di samping lo. tapi.. itu seperti balik lagi ke dalam siklus yang tak pernah putus. tapi salah gw juga kalau gw bilang ingin keluar dari lingkar hidup lo. karena itu membuat kita tak pernah menemukan takaran yang pas untuk kita berdua. jika gw lelah berada dalam siklus itu. mungkin yang gw perlukan hanya beristirahat saja.
ah kawan (jika masih boleh kupanggil begitu) pertanyaan "apakah masih ada 'kita'?" g penting lagi buat gw. kita jalani saja. mungkin selama ini kita tak pakai logika? mungkin juga. mungkin juga karena gw yang perasa. mungkin juga. mungkin juga karena lo yang tak jelas apa mau mu. mungkin juga. banyak kemungkinan. mungkin juga kita memang air dan api. tapi terus kenapa?
selamat ulang tahun ya... jika gw jadi api... lo boleh deh meniupnya...
6/10/2005
Pagi Ini
Dalam perjalanan di kereta tadi, ada seorang ibu terisak-isak menangis. Samar-samar aku coba dengar apa masalahnya. Ternyata beliau ini korban kekerasan domestik. Dia bilang, adik iparnya semalam memukul dia.
Ya Tuhan pertanda apa...
Mungkin bukan apa-apa. Awalnya aku kira suaminya yang memukul wanita itu. Kalau saja sampai saat ini belum ada kepastian subyek.. nekat juga aku hampiri...
Aku lihat orang-orang dikereta tidak begitu peduli. Aku yakin mereka mendengarkan apa yang dikatakan wanita itu. Entah tidak ingin ikut campur atau apa. Mereka diam saja.
Tapi yang kemudian terpikir olehku, isu ini, isu kekerasan domestik betul-betul seperti tembok kaca yang tebal. Begitu nyata tapi begitu sulit ditembus.
Hari ini aku wawancara subyek pertama. Jujur saja aku takut. sebenarnya bukan khawatir wawancara akan berjalan tidak lancar. Tapi..., aku takut mendengar luka batin ibu ini...
Ya Tuhan...
Psikologi, jalan yang aku pilih ini... makin aku sadar bukan jalan yang mudah di lewati. Jalan yang samar dan berbatu-batu.
Ya Allah, jika kau masih sudi menemani., tambahkan asa dalam diri. Topang aku jika badan lelah berdiri. dan jika diriku mulai muak pada manusia seperti saat ini... sudikah kau mengingatkanku?
Ya Tuhan pertanda apa...
Mungkin bukan apa-apa. Awalnya aku kira suaminya yang memukul wanita itu. Kalau saja sampai saat ini belum ada kepastian subyek.. nekat juga aku hampiri...
Aku lihat orang-orang dikereta tidak begitu peduli. Aku yakin mereka mendengarkan apa yang dikatakan wanita itu. Entah tidak ingin ikut campur atau apa. Mereka diam saja.
Tapi yang kemudian terpikir olehku, isu ini, isu kekerasan domestik betul-betul seperti tembok kaca yang tebal. Begitu nyata tapi begitu sulit ditembus.
Hari ini aku wawancara subyek pertama. Jujur saja aku takut. sebenarnya bukan khawatir wawancara akan berjalan tidak lancar. Tapi..., aku takut mendengar luka batin ibu ini...
Ya Tuhan...
Psikologi, jalan yang aku pilih ini... makin aku sadar bukan jalan yang mudah di lewati. Jalan yang samar dan berbatu-batu.
Ya Allah, jika kau masih sudi menemani., tambahkan asa dalam diri. Topang aku jika badan lelah berdiri. dan jika diriku mulai muak pada manusia seperti saat ini... sudikah kau mengingatkanku?
Tolo-tolo sedang ada masalah sama pacarnya. jadi aku, kakaknya, jadi kesepian. ko ya rumah jadi sepi... mana si Tolo-tolo jadi sering menggerutu..u.u.u...
mungkin sudah sifat dasar manusia jika ada masalah jadi lebih bersibuk dengan diri sendiri. tidak banyak waktu untuk yang lain bahkan tiada waktu untuk yang lain. pusing dengan diri sendiri. beban diri sudah begitu melelahkan kenapa pula harus kutambah dengan bebanmu. manusia yang manusiawi. Tolo-tolo manusia, kamu juga, begitupula aku.
ah ya aku....
hei kamu yang sedang membaca ini, sudah berapa lama tak kutanyakan kabar hatimu hari ini?
mungkin sudah sifat dasar manusia jika ada masalah jadi lebih bersibuk dengan diri sendiri. tidak banyak waktu untuk yang lain bahkan tiada waktu untuk yang lain. pusing dengan diri sendiri. beban diri sudah begitu melelahkan kenapa pula harus kutambah dengan bebanmu. manusia yang manusiawi. Tolo-tolo manusia, kamu juga, begitupula aku.
ah ya aku....
hei kamu yang sedang membaca ini, sudah berapa lama tak kutanyakan kabar hatimu hari ini?
Mengenang Dini
Gw ngga ingat persis, kapan gw kenal teman yang bernama Dini ini. Sewaktu jadi Maba, gw g ‘ngeh’ ada dia di antara teman-teman yang lain. Baik waktu nyanyi di Balairung, pas PSAU atau saat Prosesi.
Tapi gw ingat pertama kali gw menyadari kehadirannya. Waktu itu kuliah mas Budi, saat itu ia duduk di depan. Malah bisa dibilang paling depan. Barisan yang mulai diisi oleh peserta kuliah itu barisan 4. sedang Dini, duduk di barisan ke 2. Sendiri. Saat itu (tahun-tahun pertama kuliah) seingat gw, dia memang selalu duduk di depan dan sering pula bertanya. Saat itu pun, Dini bertanya. Gw lupa apa yang dia tanyain. Tapi yang gw ingat, sebelum mas Budi menjawab, ia terlebih dahulu memuji Dini. Dia bilang, dia hapal dengan mahasiswa yang satu ini. Mahasiswa dari Padang. Dan dia juga bilang kalau dia suka Dini menggunakan bahasa Indonesia yang baik sekali. Dan tentu saja, seperti biasa, mas Budi pun menganjurkan kami untuk seperti itu pula.
Tapi obrolan panjang pertama kali adalah saat Forum Silaturahmi Angkatan (ForSilA) balasan anak 2002. Asik betul ngobrol sama orang ini. Berbincang tentang Padang, Jakarta, novel, psikologi, masalah-masalah sensitif dan terutama untuk pertama kalinya mungkin kami berbincang tentang hidup dan kehidupan. Setelah ForSilA itu kadang-kadang kami ngobrol. Juga sekali menulis.
Dulu gw selalu merasa nih anak misterius abis, moody banget...dan terutama: seenaknya sendiri, satu sifat yang paling gw benci dari semua sifat yang dimiliki manusia huaa... sering bikin gw senewen. Tapi seiring berjalannya waktu, gw merasa kenal dia. Memahami apa yang ada dipikirannya. Sesuatu yang ia takuti tidak akan dimengerti oleh kebanyakan orang.
Selama waktu yang sudah berlalu itu, hari-hari diisi dengan berbagai macam diskusi, debat, obrolan tentang berita atau tulisan di koran, buku-buku, gosip-gosip (yang sayangnya jarang menghampiri kami), orang-orang di luar sana, tentang budaya, emosi, penghayatan pribadi, pemaknaan akan sesuatu. Mencoba memahami dunia. Dunia manusia. Dunia diri.
Dan jadilah waktu-waktu diisi dengan refleksi, pemaknaan akan segala yang terjadi pada diri, dinamika afeksi, loncatan-loncatan pemikiran, dan juga harapan. Juga kegiatan-kegiatan g penting tapi bermakna. Ngobrol sambil numpang makan (loh kebalik ya? Hehehe...) di nasi goreng bang Naim malam-malam (sampai diusir coba! Hahaha), jalan-jalan, duduk di pinggir danau, muter-muter di Mall, ke pameran, gelar budaya, kebun raya, online atau ngobrol di kosannya.
Tapi gw ingat pertama kali gw menyadari kehadirannya. Waktu itu kuliah mas Budi, saat itu ia duduk di depan. Malah bisa dibilang paling depan. Barisan yang mulai diisi oleh peserta kuliah itu barisan 4. sedang Dini, duduk di barisan ke 2. Sendiri. Saat itu (tahun-tahun pertama kuliah) seingat gw, dia memang selalu duduk di depan dan sering pula bertanya. Saat itu pun, Dini bertanya. Gw lupa apa yang dia tanyain. Tapi yang gw ingat, sebelum mas Budi menjawab, ia terlebih dahulu memuji Dini. Dia bilang, dia hapal dengan mahasiswa yang satu ini. Mahasiswa dari Padang. Dan dia juga bilang kalau dia suka Dini menggunakan bahasa Indonesia yang baik sekali. Dan tentu saja, seperti biasa, mas Budi pun menganjurkan kami untuk seperti itu pula.
Potongan lain dari kenangan akan Dini di masa-masa awal perkuliahan adalah waktu ada seorang bapak yang mengaku pamannya mencari, juga waktu aku untuk pertama kalinya main ke asrama, dan satu hari ketika kami ngobrol-ngobrol di depan perpusatkan. Bercerita tentang kota yang bernama padang.
Tapi obrolan panjang pertama kali adalah saat Forum Silaturahmi Angkatan (ForSilA) balasan anak 2002. Asik betul ngobrol sama orang ini. Berbincang tentang Padang, Jakarta, novel, psikologi, masalah-masalah sensitif dan terutama untuk pertama kalinya mungkin kami berbincang tentang hidup dan kehidupan. Setelah ForSilA itu kadang-kadang kami ngobrol. Juga sekali menulis.
Setelah periode itu lama ngga ada hubungan. Gw lupa gimana ya kami dekat lagi. apa karena sama-sama kerja di satu acara pendidikan ya? Atau sebelumnya? Lupa. tapi akhirnya ya kami dekat juga. Dulu kalau gw ngobrol sama orang ini, dia selalu senewen sama pandangan gw. Kelak, Dipan menamai pandangan gw sebagai tatapan mengintimidasi, hiks.. padahal kan tatapan gw tatapan penuh perhatian, empati pokoknya semua pandangan yang seharusnya dimiliki seorang psikolog deh. Masa di bilang mengintimidasi? Jadi kalau dia cerita, gw mesti memandang langit atau menatap dinding kosannya yang biru telur asin itu. Menatap kosong dan tidak boleh tersenyum!
Dulu gw selalu merasa nih anak misterius abis, moody banget...dan terutama: seenaknya sendiri, satu sifat yang paling gw benci dari semua sifat yang dimiliki manusia huaa... sering bikin gw senewen. Tapi seiring berjalannya waktu, gw merasa kenal dia. Memahami apa yang ada dipikirannya. Sesuatu yang ia takuti tidak akan dimengerti oleh kebanyakan orang.
Selama waktu yang sudah berlalu itu, hari-hari diisi dengan berbagai macam diskusi, debat, obrolan tentang berita atau tulisan di koran, buku-buku, gosip-gosip (yang sayangnya jarang menghampiri kami), orang-orang di luar sana, tentang budaya, emosi, penghayatan pribadi, pemaknaan akan sesuatu. Mencoba memahami dunia. Dunia manusia. Dunia diri.
Dan jadilah waktu-waktu diisi dengan refleksi, pemaknaan akan segala yang terjadi pada diri, dinamika afeksi, loncatan-loncatan pemikiran, dan juga harapan. Juga kegiatan-kegiatan g penting tapi bermakna. Ngobrol sambil numpang makan (loh kebalik ya? Hehehe...) di nasi goreng bang Naim malam-malam (sampai diusir coba! Hahaha), jalan-jalan, duduk di pinggir danau, muter-muter di Mall, ke pameran, gelar budaya, kebun raya, online atau ngobrol di kosannya.
Banyak banget yang udah terlewat. Sempat gw berpikir jika nanti lautan memisahkan, apa iya kami masih seperti sekarang. Sepulang dari Aceh membuat gw makin menyadari bahwa kehidupan yang berbeda akan membentuk pribadi yang berbeda pula. Kita memang berbeda dari awal. Besar dari lingkungan yang berbeda, budaya yang beda, personal karakteristik yang juga beda. Lalu nasib mempertemukan kami di satu ruang yang bernama fakultas psikologi UI. Setelah itu kehidupan yang berbeda akan menempa kami dengan caranya sendiri. Lalu... apa yang akan mempersatukan kami jika suatu hari nanti kami bertemu, duduk minum teh di antara jejeran buku? Dini menjawab, apa yang mempersatukan kita saat ini adalah juga yang akan mempersatukan kita nanti. Tapi apa? Kami sama-sama tidak tahu. Mungkin minat yang sama, kegundahan yang sama atau mungkin.... nilai-nilai universal yang akan selalu kami pegang.
6/09/2005
4/30/2005
seandainya....
Seandainya langit selalu biru, dan matahari tidak pernah gersang
Seandainya angin selalu hijau dan hujan tidak kelabu,
Seandainya ombak selalu alun dan karang tidak terjal,
Seandainya aku tahu apa yang aku mau, dan apa yang kamu mau,
Seandainya aku tercipta untukmu, dan kau tercipta untukku,
Seandainya aku tidak menuntut dan kau tidak meminta
Seandainya cinta berwarna putih dan asmara berdenting gita,
Seandainya mawar seindah dan semerbak melati,
Mengapa hidup tidak bisa dijalani dengan berandai-andai?
guntur, 2005
---------------
seandainya langit selalu biru, tiada lelap yang membuat diri memimpikanmu, sementara dingin membekukanku untuk menggapai tanganmu
terang benderang membuat dunia begitu menyilaukan sampai aku buta dalam kebersamaan
dan bahtera kita akan terus menerus terombang-ambing dan tiada pasak tuk mengait
abu-abu membuat dunia bertambah warna, kelabu membuat diri merenungi hari
seandainya aku tercipta untukmu lalu nasibku siapa yang punya?
Pernahkah warna-warni dunia, komposisi yang seimbang ini menyilaukanmu?
Jika cinta seperti angin bukankah itu irama jua
ahhh....Sayangnya aku mawar dan kau tak bisa berandai-andai
cinin, 2005
Seandainya angin selalu hijau dan hujan tidak kelabu,
Seandainya ombak selalu alun dan karang tidak terjal,
Seandainya aku tahu apa yang aku mau, dan apa yang kamu mau,
Seandainya aku tercipta untukmu, dan kau tercipta untukku,
Seandainya aku tidak menuntut dan kau tidak meminta
Seandainya cinta berwarna putih dan asmara berdenting gita,
Seandainya mawar seindah dan semerbak melati,
Mengapa hidup tidak bisa dijalani dengan berandai-andai?
guntur, 2005
---------------
seandainya langit selalu biru, tiada lelap yang membuat diri memimpikanmu, sementara dingin membekukanku untuk menggapai tanganmu
terang benderang membuat dunia begitu menyilaukan sampai aku buta dalam kebersamaan
dan bahtera kita akan terus menerus terombang-ambing dan tiada pasak tuk mengait
abu-abu membuat dunia bertambah warna, kelabu membuat diri merenungi hari
seandainya aku tercipta untukmu lalu nasibku siapa yang punya?
Pernahkah warna-warni dunia, komposisi yang seimbang ini menyilaukanmu?
Jika cinta seperti angin bukankah itu irama jua
ahhh....Sayangnya aku mawar dan kau tak bisa berandai-andai
cinin, 2005
4/29/2005
haahhhh...
untuk kedua kalinya setelah pulang dari aceh aku mampir lagi di Gramedia, Depok. ada buku yang mau aku cari. buku untuk Nurma dan abang Tahir.
waktu cari-cari buku di bagian anak-anak.. haaaaaahhhh.. hati ini rasanya bunggah betul.. saat ini ada banyak buku edukatif untuk anak. dari buku cerita yang mengajarkan nilai-nilai moral, buku tentang pengetahuan alam, tentang nabi-nabi dan para sahabat, tentang agama.. dan semuanya begitu menakjubkan.
ya menakjubkan. di banding 4 tahun lalu, buku-buku anak sekarang lebih variatif, tampilannya juga lebih menarik. kualitas kertas yang bagus. dan kadang tidak perlu membayar mahal untuk didapatkan.
tapi yang membuat hati ini bunggah adalah... semakin banyak buku anak yang menarik.. membuat aku berandai-andai dapat membcakan cerita-cerita itu pada anakku saat mereka hendak tidur... mengajarkan bagaimana berwudhu itu, bercerita mengapa langit berwarna biru dan air mengalir dari tempat tinggi ke tampat rendah, bercerita kalau dunia itu bulat dan semesta ini berisi bintang yang begitu banyakknya. haaaaahhhhhh....
waktu cari-cari buku di bagian anak-anak.. haaaaaahhhh.. hati ini rasanya bunggah betul.. saat ini ada banyak buku edukatif untuk anak. dari buku cerita yang mengajarkan nilai-nilai moral, buku tentang pengetahuan alam, tentang nabi-nabi dan para sahabat, tentang agama.. dan semuanya begitu menakjubkan.
ya menakjubkan. di banding 4 tahun lalu, buku-buku anak sekarang lebih variatif, tampilannya juga lebih menarik. kualitas kertas yang bagus. dan kadang tidak perlu membayar mahal untuk didapatkan.
tapi yang membuat hati ini bunggah adalah... semakin banyak buku anak yang menarik.. membuat aku berandai-andai dapat membcakan cerita-cerita itu pada anakku saat mereka hendak tidur... mengajarkan bagaimana berwudhu itu, bercerita mengapa langit berwarna biru dan air mengalir dari tempat tinggi ke tampat rendah, bercerita kalau dunia itu bulat dan semesta ini berisi bintang yang begitu banyakknya. haaaaahhhhhh....
4/03/2005
Dini, "Kutanya Kabarmu Kawan"
Minggu pagi ini, langit Depok cerah berawan. Aku menulis buatmu kawan, ditemani secangkir besar teh hangat dan alunan musik jazz dari radio.
Bagaimana kabarmu di Aceh sana? Seperti apa langitnya pagi ini? Kau bilang hari ini kau akan ke pantai. Sudah sampaikah kau di sana? Seperti apa pantai yang kau kunjungi itu? Putihkah pasirnya? Kuatkah hempasan ombaknya? Udara yang kuhirup pagi ini, seperti pagi-pagi sebelumnya masih sama segarnya. Dan bagaimana dengan udara pantai yang kau hirup? Berbau lautkah? Asinkah terasa di mulut? Angin di pantai itu seperti apa belaiannya? Sanggupkah membuaimu hingga terlelap? Lalu, apakah angin itu membawa pesan dari tengah samudra sana? Bahwa hidup akan terus berlanjut. Mimpi akan tetap dikejar, dan cita-cita akan tetap digapai. Tak peduli sedahsyat apa pun bencana yang telah mengoyak Tanah Rencong.
Kemaren malam, sepulangnya dari menonton konser bilik musik, aku menengadahkan wajah memandang langit. Jauh di angkasa sana aku melihat bintang. Lebih terang dan lebih banyak dari malam-malam sebelumnya. Memang, dua hari terakhir, langit Depok cerah tak berawan. Cakrawalanya biru dan matahari bersinar terang benderang. Aku yakin, langit Aceh berbintang lebih terang dan lebih cemerlang di saat malam. Karena pastinya, langit sana masih bersih, udaranya tidak sekotor udara kota ini.
Dua belas hari lagi kau akan kembali ke kota ini. Kembali ke kehidupanmu yang lama. Kembali ke rutinitas lama dengan meninggalkan rutinitas baru yang sempat kau jalani selama satu bulan. Kau bilang kau akan sedih meninggalkan anak-anak yang kau temui di sana. Anak-anak tampan dengan lirikan matanya yang tajam. Anak-anak yang sudah kau akrabi sekaligus kau cemari dengan logat Bojongmu.
Sempatkah kau menabur sayang? Menanam cinta dan menambatkan hatimu pada anak-anak itu? Sayangnya, sebelum sempat menuai hasil, kau mesti meninggalkan mereka. Tapi, bukankah hidup memang seperti itu kawan? Orang-orang datang dan pergi. Singgah dan berlalu dalam hidup kita ini. Kita pun begitu. Mampir sesaat di beranda hidup orang. Terkadang kita masuk lebih dalam. Namun pada akhirnya, kita juga akan meninggalkan hidup mereka. Hanya saja, wajar kita berharap, kehadiran kita yang sekejap mampu membawa tawa dalam hidup mereka. Mampu melipur lara hati mereka. Mampu menjadi matahari yang menerangi atau menjadi hujan yang membasahi kembali setelah hidup mereka sempat dilanda kemarau. Seperti itukah kehadiranmu kawan dalam hidup anak-anak itu? Menggoreskan warna dalam lukisan hari mereka. Mendentingkan tawa dan mengalunkan bahagia. Meskipun sekejap, hadirmu memberi arti. Semoga kawan.
Dan di kota ini, kutunggu hadirmu. Kutunggu ceritamu. Oh ya, jangan lupakan oleh-oleh untukku dari ujung pulau Sumatera itu. Mungkin kau bisa bawakan aku kerang dari pantai yang kau kunjungi pagi ini. Dan sekali lagi kutanya apa kabar hatimu pagi ini?.
Bagaimana kabarmu di Aceh sana? Seperti apa langitnya pagi ini? Kau bilang hari ini kau akan ke pantai. Sudah sampaikah kau di sana? Seperti apa pantai yang kau kunjungi itu? Putihkah pasirnya? Kuatkah hempasan ombaknya? Udara yang kuhirup pagi ini, seperti pagi-pagi sebelumnya masih sama segarnya. Dan bagaimana dengan udara pantai yang kau hirup? Berbau lautkah? Asinkah terasa di mulut? Angin di pantai itu seperti apa belaiannya? Sanggupkah membuaimu hingga terlelap? Lalu, apakah angin itu membawa pesan dari tengah samudra sana? Bahwa hidup akan terus berlanjut. Mimpi akan tetap dikejar, dan cita-cita akan tetap digapai. Tak peduli sedahsyat apa pun bencana yang telah mengoyak Tanah Rencong.
Kemaren malam, sepulangnya dari menonton konser bilik musik, aku menengadahkan wajah memandang langit. Jauh di angkasa sana aku melihat bintang. Lebih terang dan lebih banyak dari malam-malam sebelumnya. Memang, dua hari terakhir, langit Depok cerah tak berawan. Cakrawalanya biru dan matahari bersinar terang benderang. Aku yakin, langit Aceh berbintang lebih terang dan lebih cemerlang di saat malam. Karena pastinya, langit sana masih bersih, udaranya tidak sekotor udara kota ini.
Dua belas hari lagi kau akan kembali ke kota ini. Kembali ke kehidupanmu yang lama. Kembali ke rutinitas lama dengan meninggalkan rutinitas baru yang sempat kau jalani selama satu bulan. Kau bilang kau akan sedih meninggalkan anak-anak yang kau temui di sana. Anak-anak tampan dengan lirikan matanya yang tajam. Anak-anak yang sudah kau akrabi sekaligus kau cemari dengan logat Bojongmu.
Sempatkah kau menabur sayang? Menanam cinta dan menambatkan hatimu pada anak-anak itu? Sayangnya, sebelum sempat menuai hasil, kau mesti meninggalkan mereka. Tapi, bukankah hidup memang seperti itu kawan? Orang-orang datang dan pergi. Singgah dan berlalu dalam hidup kita ini. Kita pun begitu. Mampir sesaat di beranda hidup orang. Terkadang kita masuk lebih dalam. Namun pada akhirnya, kita juga akan meninggalkan hidup mereka. Hanya saja, wajar kita berharap, kehadiran kita yang sekejap mampu membawa tawa dalam hidup mereka. Mampu melipur lara hati mereka. Mampu menjadi matahari yang menerangi atau menjadi hujan yang membasahi kembali setelah hidup mereka sempat dilanda kemarau. Seperti itukah kehadiranmu kawan dalam hidup anak-anak itu? Menggoreskan warna dalam lukisan hari mereka. Mendentingkan tawa dan mengalunkan bahagia. Meskipun sekejap, hadirmu memberi arti. Semoga kawan.
Dan di kota ini, kutunggu hadirmu. Kutunggu ceritamu. Oh ya, jangan lupakan oleh-oleh untukku dari ujung pulau Sumatera itu. Mungkin kau bisa bawakan aku kerang dari pantai yang kau kunjungi pagi ini. Dan sekali lagi kutanya apa kabar hatimu pagi ini?.
Subscribe to:
Posts (Atom)