pagi tadi gw jemput temen di bandara Soekarno-Hatta. dia naik pesawat jam enam dari Padang. gw berangkat jam enam kurang lima dari rumah gw di bumi Citayam indah. awalnya lancar, jalan menuju stasiun masih lengang dan kereta langsung tiba ketika gw turun dari angkot. tapi setelah gw naik damri dari terminal pasar minggu, waktu berjalan begitu cepat sementara mobil nyaris tak bergerak karena macet. jam delapan teng gw telepon temen gw itu dan katanya udah turun dari pesawat. geli gw. dia udah melintasi Padang-Jakarta sementara gw belum juga sampai bandara cengkareng yang jarak Citayam-Cengkareng berapa kali jarak Padang-Jakarta.
kalau teknologi pesawat terbang dan tumpah ruahnya mobil di jalan adalah simbol modernisasi, maka dampak yang dihasilkan bertolak belakang ya. mobilitas semakin mudah tapi juga semakin sulit. mungkin dikarenakan konteksnya yang berbeda. mungkin dunia sudah dikodratkan untuk seimbang.
8/05/2005
8/02/2005
Haramnya Pluralisme
dua hari lalu, Kompas memberitakan fatwa MUI yang mengharamkan pluralisme. saya kaget. di situ dikatakan bahwa setelah mencoba mendefinisikan pluralisme, MUI memutuskan bahwa pluralisme tidak sesuai dengan ajaran Islam. sayangnya tidak diberitakan alasan dari pengharaman pluralisme. sampai saat ini pun saya belum mendapat definisi pluralisme dari MUI, sehingga belum bisa memberi tanggapan atas hal tersebut.
namun saya begitu menyayangkan munculnya fatwa tersebut. saya masih optimis bahwa pluralisme yang dilarang itu bukan sesuatu yang berkaitan dengan toleransi antar agama atau tentang bagaimana kita hidup dalam keberagaman. hanya saja yang saya takutkan adalah efek yang mungkin terjadi dari pengharaman pluralisme. yang saya maksud pluralisme sebagai sebuah kata.
menurut saya kebanyakan orang indonesia bukanlah orang yang cukup kritis dalam menanggapi suatu isu. ketika pluralisme diharamkan saya membayangkan kebanyakan orang indonesia akan menerima fatwa itu begitu saja, tanpa perlu bertanya apa itu pluralisme dan apa yang dimaksud MUI dengan pluralisme. pluralisme adalah sebuah kata yang berdiri sendiri tanpa konsep dibelakangnya. dampak dari haramnya pluralisme kemudian adalah ketika seseorang bersikap positif padanya maka haram juga perilakunya. tanpa memahami jalan pikir orang tersebut atau alasan-alasan yang mendasari sikap positifnya.
namun saya begitu menyayangkan munculnya fatwa tersebut. saya masih optimis bahwa pluralisme yang dilarang itu bukan sesuatu yang berkaitan dengan toleransi antar agama atau tentang bagaimana kita hidup dalam keberagaman. hanya saja yang saya takutkan adalah efek yang mungkin terjadi dari pengharaman pluralisme. yang saya maksud pluralisme sebagai sebuah kata.
menurut saya kebanyakan orang indonesia bukanlah orang yang cukup kritis dalam menanggapi suatu isu. ketika pluralisme diharamkan saya membayangkan kebanyakan orang indonesia akan menerima fatwa itu begitu saja, tanpa perlu bertanya apa itu pluralisme dan apa yang dimaksud MUI dengan pluralisme. pluralisme adalah sebuah kata yang berdiri sendiri tanpa konsep dibelakangnya. dampak dari haramnya pluralisme kemudian adalah ketika seseorang bersikap positif padanya maka haram juga perilakunya. tanpa memahami jalan pikir orang tersebut atau alasan-alasan yang mendasari sikap positifnya.
8/01/2005
Aku Mahasiswa
Tinggal menghitung minggu dan usai sudah masaku menjadi mahasiswa. Mungkin nanti jika aku ambil S2 Profesi Psikolog, atau ambil program doktoral, statusku juga mahasiswa. Tapi buatku, yang namanya menjadi mahasiswa adalah masa-masa sekarang ini, masa menjadi mahasiswa sarjana. Masa dimana gairah menjadi manusia muda berkobar dan mampu memberikan perubahan. Gelora remaja menuju dewasa awal.
Aku masih ingat ketika menjadi mahasiswa baru. Begitu bersemangat dan bergairah. Bisa jadi karena aku diterima di salah satu perguruan tinggi terbaik di negri ini. Masuk di fakultas yang aku pilih sebagai jalan hidup. Tapi yang membuatku bersemangat adalah anganku bahwa diri ini akan masuk ke dalam lingkungan intelektual yang penuh gairah.
Kegairahan bahwa diriku akan masuk ke dalam lingkungan yang penuh energi dan semangat. Gagasan dilontarkan untuk diwujudkan, Tanya, lahir untuk ditanggapi, Diskusi-diskusi digelar untuk mengasah ketajaman berpikir, pendapat-pendapat diungkapkan tanpa batasan. Semua itu mungkin serta merta karena inilah dunia kampus, dunia di mana kekebasan berpikir menjadi dewa. Dunia dimana kita dihantarkan menuju cakrawala pengetahuan yang lebih luas, untuk kemudian kita memiliki pengetahuan yang kita yakini, prinsip-prinsip hidup yang melandasi hidup kita selanjutnya, bekal untuk menjadi manusia-manusia yang ahli dibidangnya.
Dan kegairahan itu makin menjadi-jadi ketika aku dan para mahasiswa baru UI yang jumlahnya ribuan itu merayakan kedatangan kami sendiri di kampus tercinta, berjaket kuning dalam acara wisuda. Bernyanyi untuk kami sendiri...
Ya kamilah pahlawan muda itu. Gaung yang membahana di Balairung yang megah itu, warna kuning menyala pantulan jaket almamater yang kemungkinan besar baru sekali itu dipakai, wisudawan yang kelihatan sumringah dan keriangan yang masih juga memancar dari teman-teman yang sama-sama baru lulus UMPTN serta bayangan akan kehidupan perkuliahan, semua berbaur dan memberi kehangatan dalam hati. Bara yang merah menyala.
Tapi apa lacur? Tahun pertama di perkuliahan mulai mengerogoti kehangatan itu. Angin seperti enggan untuk bertiup sehingga perlahan-lahan bara dalam hati kian redup dan redup.. Tugas, tugas, tugas dan tugas. Di susul oleh ujian, ujian dan tugas. Begitu banyak beban perkuliahan hingga membuat mati semangat ini. Tapi bukan itu hanya itu saja yang membuat angin tiada berhembus, dunia perkuliahan begitu menjemukan! Tiada debat atau diskusi, tiada tanya yang dibalas oleh rentetan tanya yang lain. Dan paling tragis adalah, manusia-manusia yang mengikuti perkuliahan itulah jugalah yang membuat dunia ini mati. Coba lihat, manusia-manusia yang konon pintar karena berhasil terpilih dari ribuan peminat, cream de la cream kata Dekanku waktu itu, manusia-manusia dengan kemampuan intelektual diatas rata-rata, mereka cuma bisa diam dan melongo! Dan lebih parah lagi mereka ini yang mematikan keinginan untuk bertanya bagi sebagian orang yang masih punya semangat untuk ‘mengetahui’, semangat untuk belajar yang sesungguhnya.
Kenapa? Ya betul, karena mereka memandang aneh perilaku bertanya, "buat apa sih nanya hal ga penting kaya gitu?" "Ah..udah abis nih waktunya," "aduh! Jangan nanya dong." Ya. Benar. Dan tumbanglah satu-persatu manusia-manusia kritis dan dengan keinginantahuan yang besar. Makin hari kuliah makin datar, hambar, menjemukan dan melelahkan. Gairah makin susut, digantikan oleh kelelahan yang nyata dan persepsi diri akan kelelahan akibat tugas, tugas dan tugas.
Menurutku sih tugas-tugas di psikologi menarik, analisis kepribadian tokoh atau wayang, analisis perkembangan diri, mengunjungi tempat-tempat macam muara angke atau rumah sakit jiwa, jalan-jalan ke gelanggang samudra di ancol, bikin program kesehatan mental dan lain-lain. Semua memberi peluang untuk membuka cakrawala pengetahuan dan pengalaman menyelami literatur yang berkaitan dengan tugas tersebut. Tapi hampir semua mata kuliah ada tugas. dan itu melelahkan.
Kadang aku berpikir apa yang membuat ini begitu melelahkan? Bebannyakah yang tidak manusiawi atau jangan-jangan kemampuan berpikir aku yang payah.
Entah apa jawabnya, tapi makin lama kemampuan berpikirku malah semakin tumpul. Kegiatan perkuliahan menjadi hal yang rutin. Mengisi IRS dan KRS di awal semester, masuk kuliah ‘anu’ jam sekian, besok kuliah ‘itu’, ada kuis minggu ini dan UTS minggu yang akan datang, kuliah ‘anu’ jam sekian, besok kuliah ‘itu’, nanti mengerjakan tugas ini, setelahnya tugas lain menanti. Tau-tau besok UAS. Tugas-tugas mesti dikumpulkan, belajar mesti digiatkan. Semua nyaris sama.
Apa yang kudapat? Terlalu banyak tugas mejauhkan diri dari buku bagus yang pingin aku baca, membuat aku jarang baca koran, meminimkan waktu untuk sekedar jalan-jalan ke tempat-tempat baru. Apalagi mau belajar membatik, menari, main flute, ikutan teater, atau sesekali menonton puisi di TIM. Ga ada waktu.
Ah ya... sebentar lagi akan berakhir episode ini. Aku bakal sangat kehilangan. Mungkin pula disertai kekecewaan angan-anganku melayang.
Aku masih ingat ketika menjadi mahasiswa baru. Begitu bersemangat dan bergairah. Bisa jadi karena aku diterima di salah satu perguruan tinggi terbaik di negri ini. Masuk di fakultas yang aku pilih sebagai jalan hidup. Tapi yang membuatku bersemangat adalah anganku bahwa diri ini akan masuk ke dalam lingkungan intelektual yang penuh gairah.
Kegairahan bahwa diriku akan masuk ke dalam lingkungan yang penuh energi dan semangat. Gagasan dilontarkan untuk diwujudkan, Tanya, lahir untuk ditanggapi, Diskusi-diskusi digelar untuk mengasah ketajaman berpikir, pendapat-pendapat diungkapkan tanpa batasan. Semua itu mungkin serta merta karena inilah dunia kampus, dunia di mana kekebasan berpikir menjadi dewa. Dunia dimana kita dihantarkan menuju cakrawala pengetahuan yang lebih luas, untuk kemudian kita memiliki pengetahuan yang kita yakini, prinsip-prinsip hidup yang melandasi hidup kita selanjutnya, bekal untuk menjadi manusia-manusia yang ahli dibidangnya.
Dan kegairahan itu makin menjadi-jadi ketika aku dan para mahasiswa baru UI yang jumlahnya ribuan itu merayakan kedatangan kami sendiri di kampus tercinta, berjaket kuning dalam acara wisuda. Bernyanyi untuk kami sendiri...
Selamat datang pahlawan muda, Lama nian kami rindukan dikau,
Bertahun-tahun
bercerai mata, Kini kita dapat berjumpa pula,
Dengarkan sorak gegap gempita
mengiringi derap langkah perwira,
hilangkan rindu dendam ibumu selamat datang
di Jakarta Rayaaaa.....
Pahlawan Muda.
Ya kamilah pahlawan muda itu. Gaung yang membahana di Balairung yang megah itu, warna kuning menyala pantulan jaket almamater yang kemungkinan besar baru sekali itu dipakai, wisudawan yang kelihatan sumringah dan keriangan yang masih juga memancar dari teman-teman yang sama-sama baru lulus UMPTN serta bayangan akan kehidupan perkuliahan, semua berbaur dan memberi kehangatan dalam hati. Bara yang merah menyala.
Tapi apa lacur? Tahun pertama di perkuliahan mulai mengerogoti kehangatan itu. Angin seperti enggan untuk bertiup sehingga perlahan-lahan bara dalam hati kian redup dan redup.. Tugas, tugas, tugas dan tugas. Di susul oleh ujian, ujian dan tugas. Begitu banyak beban perkuliahan hingga membuat mati semangat ini. Tapi bukan itu hanya itu saja yang membuat angin tiada berhembus, dunia perkuliahan begitu menjemukan! Tiada debat atau diskusi, tiada tanya yang dibalas oleh rentetan tanya yang lain. Dan paling tragis adalah, manusia-manusia yang mengikuti perkuliahan itulah jugalah yang membuat dunia ini mati. Coba lihat, manusia-manusia yang konon pintar karena berhasil terpilih dari ribuan peminat, cream de la cream kata Dekanku waktu itu, manusia-manusia dengan kemampuan intelektual diatas rata-rata, mereka cuma bisa diam dan melongo! Dan lebih parah lagi mereka ini yang mematikan keinginan untuk bertanya bagi sebagian orang yang masih punya semangat untuk ‘mengetahui’, semangat untuk belajar yang sesungguhnya.
Kenapa? Ya betul, karena mereka memandang aneh perilaku bertanya, "buat apa sih nanya hal ga penting kaya gitu?" "Ah..udah abis nih waktunya," "aduh! Jangan nanya dong." Ya. Benar. Dan tumbanglah satu-persatu manusia-manusia kritis dan dengan keinginantahuan yang besar. Makin hari kuliah makin datar, hambar, menjemukan dan melelahkan. Gairah makin susut, digantikan oleh kelelahan yang nyata dan persepsi diri akan kelelahan akibat tugas, tugas dan tugas.
Menurutku sih tugas-tugas di psikologi menarik, analisis kepribadian tokoh atau wayang, analisis perkembangan diri, mengunjungi tempat-tempat macam muara angke atau rumah sakit jiwa, jalan-jalan ke gelanggang samudra di ancol, bikin program kesehatan mental dan lain-lain. Semua memberi peluang untuk membuka cakrawala pengetahuan dan pengalaman menyelami literatur yang berkaitan dengan tugas tersebut. Tapi hampir semua mata kuliah ada tugas. dan itu melelahkan.
Kadang aku berpikir apa yang membuat ini begitu melelahkan? Bebannyakah yang tidak manusiawi atau jangan-jangan kemampuan berpikir aku yang payah.
Entah apa jawabnya, tapi makin lama kemampuan berpikirku malah semakin tumpul. Kegiatan perkuliahan menjadi hal yang rutin. Mengisi IRS dan KRS di awal semester, masuk kuliah ‘anu’ jam sekian, besok kuliah ‘itu’, ada kuis minggu ini dan UTS minggu yang akan datang, kuliah ‘anu’ jam sekian, besok kuliah ‘itu’, nanti mengerjakan tugas ini, setelahnya tugas lain menanti. Tau-tau besok UAS. Tugas-tugas mesti dikumpulkan, belajar mesti digiatkan. Semua nyaris sama.
Apa yang kudapat? Terlalu banyak tugas mejauhkan diri dari buku bagus yang pingin aku baca, membuat aku jarang baca koran, meminimkan waktu untuk sekedar jalan-jalan ke tempat-tempat baru. Apalagi mau belajar membatik, menari, main flute, ikutan teater, atau sesekali menonton puisi di TIM. Ga ada waktu.
Ah ya... sebentar lagi akan berakhir episode ini. Aku bakal sangat kehilangan. Mungkin pula disertai kekecewaan angan-anganku melayang.
Pohon-pohon UI
lagi-lagi, beberapa pohon hutan depan Psikologi ditebang. tepatnya pohon-pohon yang berada di pinggir jalan menuju pintu keluar gerbang UI. sebelumnya sudah banyak pohon yang ditebang setelah peristiwa pembunuhan mahasiswa fasilkom di sabtu sore beberapa bulan lalu. gw sih maklum. kalo tujuannya supaya jarak pandang orang-orang jadi luas dan jelas. jadi kalo ada sesuatu orang lain bisa membantu. sekarang, untuk apalagi pohon-pohon itu ditebang? gw merasa udah terlalu banyak pohon yang dikorbankan.
sebelum peristiwa pembunuhan itu, hutan depan fisip juga udah diperkecil. pohon-pohon di babat habis. dibuat lahan parkir.
Gw senang UI punya hutan yang luas dan lebat. karena itu gw bisa liat tupai loncat dari satu dahan ke dahan lain. bisa lari pagi di bawah rimbun dedaunan. dan di tengah ganasnya geliat kota Depok membangun hutan-hutan beton, gw bangga UI masih ijo royo-royo.
terus, untuk apalagi pohon-pohon itu ditebang? buat lahan parkir mahasiswa dan dosen UI yang kaya-kaya itu? ah... gw berharap pihak universitas sadar kalo Depok itu daerah resapan air.
sebelum peristiwa pembunuhan itu, hutan depan fisip juga udah diperkecil. pohon-pohon di babat habis. dibuat lahan parkir.
Gw senang UI punya hutan yang luas dan lebat. karena itu gw bisa liat tupai loncat dari satu dahan ke dahan lain. bisa lari pagi di bawah rimbun dedaunan. dan di tengah ganasnya geliat kota Depok membangun hutan-hutan beton, gw bangga UI masih ijo royo-royo.
terus, untuk apalagi pohon-pohon itu ditebang? buat lahan parkir mahasiswa dan dosen UI yang kaya-kaya itu? ah... gw berharap pihak universitas sadar kalo Depok itu daerah resapan air.
Rossi oh Rossi
sebel!!! rasanya kaya diberi harapan terus tiba-tiba dirampas! dikoyak-koyak terus di sungkurkan ke tanah!!! sebel!!!!!!!!
padahal gw kira jagoan gw musim ini bisa melengkapi kebahagian gw. jadi juara setelah tampil buruk selama musim ini berlangsung. tapi balapan semalam betul-betul mengecewakan!
yah seri kemarin emang bukan pertama kalinya Gibernau yang udah memimpin berlap-lap pada saat-saat terakhir didahului Rossi. dan gw udah mahfum kalo Rossi emang jenius abis. tapi yang bikin sebel adalah Gibernau begitu bodohnya di awal lap terakhir mengambil belokan dengan begitu lebarnya. mau ngapai sih mister? ngasih Rossi jalan ya?? gedek gw! itu mah g perlu Rossi yang jenius untuk bisa ngedahuluin. gggrrrrr... dan lajulah the doctor. menang. hah. menyesakkan.
kecewa. ada apa denganmu? buruk nian musim ini. ya sudahlah. biar g jadi juara musim ini, masih ada yang tersisa. Ayo Kalahkan Rossi!!!!!!!
padahal gw kira jagoan gw musim ini bisa melengkapi kebahagian gw. jadi juara setelah tampil buruk selama musim ini berlangsung. tapi balapan semalam betul-betul mengecewakan!
yah seri kemarin emang bukan pertama kalinya Gibernau yang udah memimpin berlap-lap pada saat-saat terakhir didahului Rossi. dan gw udah mahfum kalo Rossi emang jenius abis. tapi yang bikin sebel adalah Gibernau begitu bodohnya di awal lap terakhir mengambil belokan dengan begitu lebarnya. mau ngapai sih mister? ngasih Rossi jalan ya?? gedek gw! itu mah g perlu Rossi yang jenius untuk bisa ngedahuluin. gggrrrrr... dan lajulah the doctor. menang. hah. menyesakkan.
kecewa. ada apa denganmu? buruk nian musim ini. ya sudahlah. biar g jadi juara musim ini, masih ada yang tersisa. Ayo Kalahkan Rossi!!!!!!!
7/29/2005
hari ini
hari ini gw sidang. lulus katanya. alhamdulillah.
mampir ke kafe buku.
senja.
lalu lalang kendaraan. alunan musik.
tiba-tiba gw merasa kosong. gw yang dulu.
lalu gw berkabar. aku lulus kataku dengan riang.
dan hati gw tenang lagi.
iya memang sudah lulus.
aku sudah lulus.
hari ini beberapa teman sms, menelpon. memberi semangat dan selamat. termasuk teman-teman lama yang udah bertahun2 g ketemu, atau orang yang udah punya kesibukan sendiri. terharu gw.. ya ampun.. angin apa yang bikin mereka nanyain kabar gw ya? awalnya, buat gw sidang biasa aja. ya setidaknya ini momen pribadi. tapi seminggu ini banyak betul yang nanyain kabar gw.. gw jadi terharu.. hiks... sumpah deh hiks.. huaaaa.... senang betul ya ada yang merhatiin. jadi gw mau berbaginya dengan anda. senangnya. anda senang tidak? hehehe...
mampir ke kafe buku.
senja.
lalu lalang kendaraan. alunan musik.
tiba-tiba gw merasa kosong. gw yang dulu.
lalu gw berkabar. aku lulus kataku dengan riang.
dan hati gw tenang lagi.
iya memang sudah lulus.
aku sudah lulus.
hari ini beberapa teman sms, menelpon. memberi semangat dan selamat. termasuk teman-teman lama yang udah bertahun2 g ketemu, atau orang yang udah punya kesibukan sendiri. terharu gw.. ya ampun.. angin apa yang bikin mereka nanyain kabar gw ya? awalnya, buat gw sidang biasa aja. ya setidaknya ini momen pribadi. tapi seminggu ini banyak betul yang nanyain kabar gw.. gw jadi terharu.. hiks... sumpah deh hiks.. huaaaa.... senang betul ya ada yang merhatiin. jadi gw mau berbaginya dengan anda. senangnya. anda senang tidak? hehehe...
7/26/2005
Flu Burung
kabarnya terdapat virus flu burung pada kotoran burung peliharaan sekitar 15 meter dari kediaman keluarga Iwan. keluarga Iwan seperti diberitakan berbagai media meninggal bersama kedua putrinya akibat virus yang sudah dipastikan merupakan virus flu burung.
tadi pagi, om-ku telepon memberi kabar berita itu. khawatir juga mungkin, dia kan punya banyak burung dan ayam di rumah. g tau deh gimana nasib mereka. g di apa2in mungkin. aneh juga sih, ko ya orang yang punya burung malah g kenapa-napa. yang meninggal justru orang yang tinggalnya 15 meter jauhnya. tiga orang lagi. jadi ya.. mau meninggal karena flu burung yah emang udah ajalnya. daripada nyalaihin si burung. kasian burungnya kata papaku.
turrrr...trukk..kuk..ku... rrr....
ups... burung siapa tuh yang berkicau...mmm... "paps, bukannya kita juga punya burung ya di rumah? sekarang ada dua lagi...pap...burungnya kan di impor dari daerah deket Tanggerang....paps, flu burung loh."
-----siiiinnnnggggg-----
wakakakak... ah... biarin deh. gw suka denger kicaunya. kalau gw meninggal gara2 flu burung yah.. emang udah ajal gw. kasian kan burungnya hehehe... tapi kalau ada yang meninggal gara2 peliharaan gw gimana ya? gimana pap? ah... burung-burung perkututku...
tadi pagi, om-ku telepon memberi kabar berita itu. khawatir juga mungkin, dia kan punya banyak burung dan ayam di rumah. g tau deh gimana nasib mereka. g di apa2in mungkin. aneh juga sih, ko ya orang yang punya burung malah g kenapa-napa. yang meninggal justru orang yang tinggalnya 15 meter jauhnya. tiga orang lagi. jadi ya.. mau meninggal karena flu burung yah emang udah ajalnya. daripada nyalaihin si burung. kasian burungnya kata papaku.
turrrr...trukk..kuk..ku... rrr....
ups... burung siapa tuh yang berkicau...mmm... "paps, bukannya kita juga punya burung ya di rumah? sekarang ada dua lagi...pap...burungnya kan di impor dari daerah deket Tanggerang....paps, flu burung loh."
-----siiiinnnnggggg-----
wakakakak... ah... biarin deh. gw suka denger kicaunya. kalau gw meninggal gara2 flu burung yah.. emang udah ajal gw. kasian kan burungnya hehehe... tapi kalau ada yang meninggal gara2 peliharaan gw gimana ya? gimana pap? ah... burung-burung perkututku...
7/11/2005
@#*!!)*^%$x!!+!?$#%^^&+(
yah saya di sini. menulis untuk anda, itu berarti saya sedang keluar dari pertapaan saya untuk sementara. arrrggghhh.... pusing!
saya ceritain ya, kalo saat ini saya sudah sampai pada tahap sangat MUAL jika memikirkan tentang skripsi belum lagi jika melihat kertas-kertas berserakan, buku-buku yang tebalnya sebesar batu bata, membaca draft berulang kali, memandangi layar monitor, membolak-balik transkrip wawancara yang tebalnya ratusan halaman, membuat saya ENEG! itu bukan kata kiasan saudara-saudara. karena saya betul-betul ingin muntah. perut saya langsung terstimulasi dan @%&^*#!!!?!@#$%$#.
akhh... berat nian perjuangan ini.
tapi saya takjub dengan kemampuan saya untuk fokus beberapa hari ini. walo itu membuat saya..... arrgghhhh!!!
saya ceritain ya, kalo saat ini saya sudah sampai pada tahap sangat MUAL jika memikirkan tentang skripsi belum lagi jika melihat kertas-kertas berserakan, buku-buku yang tebalnya sebesar batu bata, membaca draft berulang kali, memandangi layar monitor, membolak-balik transkrip wawancara yang tebalnya ratusan halaman, membuat saya ENEG! itu bukan kata kiasan saudara-saudara. karena saya betul-betul ingin muntah. perut saya langsung terstimulasi dan @%&^*#!!!?!@#$%$#.
akhh... berat nian perjuangan ini.
tapi saya takjub dengan kemampuan saya untuk fokus beberapa hari ini. walo itu membuat saya..... arrgghhhh!!!
7/04/2005
'My Secret Admirer' dan Mister yang Jatuh Cinta
gw baru aja baca blog temen. tentang secret admirer si pengagum rahasia. beuh.... gw jadi mikir huaah.. enaknya dikagumi, enaknya dicintai. rahasia lagi! huuu...misterius...
JIKA, gw diteror dgn sms yang isinya puisi cinta, dan sms itu di kirim berkali-kali, sampai memenuhi inbox, diteror dengan miskol-miskol berulang kali dari nomor tak dikenal maupun tidak ingin dikenal, jujur aja, gw merasa senang. walaupun mungkin gw ngga tau siapa peneror itu. tapi gw merasa bahagia. bahagia manusia yang dicintai.
dicintai memang bikin bahagia. bayangin aja ada yang mencintai lo! yah walaupun belum tentu sms atau miskol itu menandakan seseorang sedang mencintai diri lo atau mengagumi lo.. tapi mmm..... gila aja ada orang yang kurang kerjaan membuang pulsanya cuma buat sms ngga penting atau diem doang di telepon buat gw.. hmm.... menyenangkan sekali. lalalala..... yah itu dari segi materi yang berwujud pulsa. yang bikin ge er lagi adalah pastinya orang ini menyisihkan sedikit banyak perhatiannya buat gw. mmm... it's so.... sweet.. hehehehehe...
tapi ko rasa bahagianya ngga lama-lama ya. abis itu ya udah. sapa juga mereka. kalaupun kemudian gw tau siapa mereka, gw bertanya adakah rasa lebih dalam hati gw. ngga ada. ya udah. semua jadi basi. krik..krik..krik.. jadi dicintai bukan lagi sesuatu yang mutlak membahagiakan. ada faktor lain. siapa yang mencintai lo.
dan gw jadi inget kalau cinta memang tidak adil. ya iyalah. cinta sama keadilan itu dua konsep yang berbeda, ngapain di satuinn. cinta itu memang memihak. ngga mungkin kan lo menerima cinta semua orang yang mencintai lo. atau lo mencintai semua orang. walaupun pada kasus-kasus khusus lo bisa mencintai lebih dari satu orang dalam waktu bersamaan, tapi ngga semua orang kan istimewa dalam kadar yang sama di hati lo. yah cinta memang memihak. memihak pada orang yang lo cintai.
***
ngomong2 soal cinta, finally, setelah beberapa minggu ini, dunia dipenuhi aroma patah hati, ada juga yang jatuh cinta. yah sebut saja mister XYZ. mister ini betul-betul lagi jato cinte. bayangin aja, tiap ngobrol sama gw yang diomongin cuma cewek ini aja. sampe bela-belain nelpon interlokal cuma buat laporan tentang kisahnya seminggu ini bersama cewek pujaan hati. dan jadi rajin meng-sms gw cuma buat numpahin uneg2.
yah namanya juga orang jatuh cinta, hal kecil juga jadi besaaaaaaaaaaaarrr. masalah smsnya ngga dibales bikin uring-uringan. makan-tidur ngga enak. yang biasanya cuek ngga ada pulsa jadi diusahakan pulsa selalu terisi. pokoknya jalur komunikasi dengan cewek ini harus selalu terpelihara.
tapi implikasinya ya itu, jadi suka uring-uringan. kerjaannya menganalisa, 'ko dia begini ya', 'gw ada salah apa ya?' aduh! jangan tanya saya tokh mister. saya juga ndak tau. tapi sering juga hasil analisanya membuat mister xyz senang. wuih kekasih pujaan hati ko seneng betul ya deket2 saya. aduh....! mau bilang jangan ke ge-er an, nanti taunya gw yang salah. jadi ya gw dengerin aja deh.
sambil menikmati senyum yang ada si bibirnya saban kali cerita tentang cewek ini. menikmati juga uring2annya sebagai hal yang lucu. dasar penyakit orang jatuh cinta. sambil gw bersiap2 membuat ramuan patah hati. yah sedia payung sebelum ujan boleh kan. wakakakak.... tapi... wish you luck mister....
JIKA, gw diteror dgn sms yang isinya puisi cinta, dan sms itu di kirim berkali-kali, sampai memenuhi inbox, diteror dengan miskol-miskol berulang kali dari nomor tak dikenal maupun tidak ingin dikenal, jujur aja, gw merasa senang. walaupun mungkin gw ngga tau siapa peneror itu. tapi gw merasa bahagia. bahagia manusia yang dicintai.
dicintai memang bikin bahagia. bayangin aja ada yang mencintai lo! yah walaupun belum tentu sms atau miskol itu menandakan seseorang sedang mencintai diri lo atau mengagumi lo.. tapi mmm..... gila aja ada orang yang kurang kerjaan membuang pulsanya cuma buat sms ngga penting atau diem doang di telepon buat gw.. hmm.... menyenangkan sekali. lalalala..... yah itu dari segi materi yang berwujud pulsa. yang bikin ge er lagi adalah pastinya orang ini menyisihkan sedikit banyak perhatiannya buat gw. mmm... it's so.... sweet.. hehehehehe...
tapi ko rasa bahagianya ngga lama-lama ya. abis itu ya udah. sapa juga mereka. kalaupun kemudian gw tau siapa mereka, gw bertanya adakah rasa lebih dalam hati gw. ngga ada. ya udah. semua jadi basi. krik..krik..krik.. jadi dicintai bukan lagi sesuatu yang mutlak membahagiakan. ada faktor lain. siapa yang mencintai lo.
dan gw jadi inget kalau cinta memang tidak adil. ya iyalah. cinta sama keadilan itu dua konsep yang berbeda, ngapain di satuinn. cinta itu memang memihak. ngga mungkin kan lo menerima cinta semua orang yang mencintai lo. atau lo mencintai semua orang. walaupun pada kasus-kasus khusus lo bisa mencintai lebih dari satu orang dalam waktu bersamaan, tapi ngga semua orang kan istimewa dalam kadar yang sama di hati lo. yah cinta memang memihak. memihak pada orang yang lo cintai.
***
ngomong2 soal cinta, finally, setelah beberapa minggu ini, dunia dipenuhi aroma patah hati, ada juga yang jatuh cinta. yah sebut saja mister XYZ. mister ini betul-betul lagi jato cinte. bayangin aja, tiap ngobrol sama gw yang diomongin cuma cewek ini aja. sampe bela-belain nelpon interlokal cuma buat laporan tentang kisahnya seminggu ini bersama cewek pujaan hati. dan jadi rajin meng-sms gw cuma buat numpahin uneg2.
yah namanya juga orang jatuh cinta, hal kecil juga jadi besaaaaaaaaaaaarrr. masalah smsnya ngga dibales bikin uring-uringan. makan-tidur ngga enak. yang biasanya cuek ngga ada pulsa jadi diusahakan pulsa selalu terisi. pokoknya jalur komunikasi dengan cewek ini harus selalu terpelihara.
tapi implikasinya ya itu, jadi suka uring-uringan. kerjaannya menganalisa, 'ko dia begini ya', 'gw ada salah apa ya?' aduh! jangan tanya saya tokh mister. saya juga ndak tau. tapi sering juga hasil analisanya membuat mister xyz senang. wuih kekasih pujaan hati ko seneng betul ya deket2 saya. aduh....! mau bilang jangan ke ge-er an, nanti taunya gw yang salah. jadi ya gw dengerin aja deh.
sambil menikmati senyum yang ada si bibirnya saban kali cerita tentang cewek ini. menikmati juga uring2annya sebagai hal yang lucu. dasar penyakit orang jatuh cinta. sambil gw bersiap2 membuat ramuan patah hati. yah sedia payung sebelum ujan boleh kan. wakakakak.... tapi... wish you luck mister....
7/01/2005
Membaca Catatan Seorang Demonstran
saya baru membaca pengantar Catatan Seorang Demonstran dari Soe Hok Gie, ketika saya tidak kuat menahan air mata saya. konyol. ya betul-betul konyol. pertama, karena saat itu saya sedang berada dalam kereta api. yang sayangnya sedang kosong. seorang ibu yang duduk depan saya tersenyum. dan seorang bapak yang berdiri di depan saya memandang heran, mungkin bertanya-tanya. kedua, saya merasa begitu bodoh karena secara spontan mengeluarkan air mata hanya karena tuturan Arief Budiman kakak Gie ketika ia meninggal. konyol karena, saya merasa begitu cengeng.
kemudian saya berhenti membaca. mungkin yang membuat saya meneteskan air mata bukan rasa sedih yang menguap dari kalimat-kalimat yang di tulis Arief Budiman. tapi lebih dalam dari itu.
membaca pengantar-pengantar dalam buku itu membuat saya berkaca. semangat Gie untuk mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya walaupun membuat dirinya 'sendiri' kontras sekali dengan kekosongan yang saya rasakan beberapa tahun belakangan.
saya merasa jiwa saya kosong. saya seperti manusia tanpa tujuan. seperti zombie yang bergerak entah di stimulasi oleh apa. saya seperti mayat hidup yang menjalani hari-hari hanya untuk menggenapi naskah kehidupan. menjalani hari-hari karena kau harus menjalaninya. perjalanan yang mesti di lewati untuk kemudian mati.
pagi di hari yang sama saya membaca buku itu, saya merasa ada yang redup dalam diri saya. semangat hidup. vitalitas untuk menjalani hari. segalanya redup. tujuan hidup saya, apa yang penting untuk saya, kepedulian saya, semangat untuk berprestasi, semangat untuk belajar, redup pula keinginan saya untuk melakukan sesuatu karena saya punya keterampilan untuk itu, redup pula keinginan saya untuk jadi bagian dari dunia yang indah ini. semua redup. nyaris padam.
saya merasa apa yang saya pelajari sudah cukup, saya sudah cukup punya kawan, saya sudah cukup melihat dunia. mungkin saya cuma ingin sendiri.
tapi kekosongan itu membuat saya tidak nyaman. bukan ini yang seharusnya saya jalani. hidup ini harus di buat berarti bukan? dan semangat Gie seperti menohok diri saya. menampar saya. apa yang sudah saya lakukan di masa muda saya?
Ada juga satu kalimat dalam kata pengantar dari Dekan F. Sastra waktu itu yang membuat saya berpikir. kalimat itu kira-kira begini, mahasiswa adalah masa peralihan di mana nantinya kita mahasiswa ini dituntut menjadi manusia dewasa yang bertanggung jawab. ya saya setuju. apa yang membuat beberapa mahasiswa begitu sulit menyelesaikan skripsi? karena setelah lulus mereka akan jadi manusia yang punya tanggung jawab lain. saya mengamati orang-orang sekeliling saya, kebanyakan mereka sedang bertanya, mau apa setelah ini, apa yang penting dalam hidup ini, untuk apa kita jadi manusia, mengapa dunia begitu membingungkan, pertanyaan-pertanyaan itu membuat beberapa orang menjadi lelah dan kemudian nyaris menyerah. menjadikan mereka zombie-zombie seperti saya.
dan ini memang masanya.
****
dan aku jadi ingat kamu. dulu ketika melihat seseorang punya skill kepemimpinan yang baik, cerdas, bekerja secara kongkrit, sangat potensial untuk menjadi orang sukses kita bilang mereka akan jadi orang besar. tapi saat ini aku ragu akan hal itu. mereka akan jadi hebat jika mereka melewati masa ini dengan gemilang. itu keyakinanku sekarang.
melihat sekeliling termasuk melihat aku dan kamu membuat aku sadar memang ini masanya. masa dewasa muda bukan cuma sekedar masa yang digenapi dengan mempunyai pasangan intim sebagai belahan jiwa. mengisi kekosongan yang jamaknya lebih terasa kosong di masa dewasa muda di banding tahap perkembangan lain. bukan itu saja. masa ini adalah masa kita mencari jawaban-jawaban tentang akan kemana hidup kita, apa yang penting dalam hidup ini, bagaimana aku akan menjalani hidupku.
termasuk pula masa kita belajar menerima bahwa setelah ini kita adalah manusia yang mau tidak mau dituntut untuk bertanggung jawab. bertanggung jawab terhadap kelangsungan generasi kita, bertanggung jawab untuk menjadi generasi yang menggerakan dunia, bertanggung jawab pada manusia-manusia pendahulu kita. bahwa kita tidak bisa menjadi anak kecil yang bisa main di padang, pulang, tidur dan main lagi keesokkan harinya. ya semua itu aku paham betul. tapi itu pula yang membuat aku lelah. masa ini... masa penuh pertanyaan, dan ujian.
dan aku jadi ingat kamu. yang katanya mau menyerah saja. ah aku begitu pula.... masa ini, ingin segera ku akhiri...
tapi aku juga mau bilang, jangan menyerah yuk. kita pasti temukan jawabannya, lewati ujian ini. mungkin kita tidak di takdirkan untuk menjadi orang hebat yang namanya berkumandang. lagian buat apa artinya kumadang nama. tapi jika kita 'lulus' di masa ini, setidaknya kita mati untuk berarti.
walaupun aku juga tak tau bagaimana kalahkan kekosongan ini, bagaimana mengembalikan cahaya yang nyaris padam. aku juga ngga tau...
kemudian saya berhenti membaca. mungkin yang membuat saya meneteskan air mata bukan rasa sedih yang menguap dari kalimat-kalimat yang di tulis Arief Budiman. tapi lebih dalam dari itu.
membaca pengantar-pengantar dalam buku itu membuat saya berkaca. semangat Gie untuk mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya walaupun membuat dirinya 'sendiri' kontras sekali dengan kekosongan yang saya rasakan beberapa tahun belakangan.
saya merasa jiwa saya kosong. saya seperti manusia tanpa tujuan. seperti zombie yang bergerak entah di stimulasi oleh apa. saya seperti mayat hidup yang menjalani hari-hari hanya untuk menggenapi naskah kehidupan. menjalani hari-hari karena kau harus menjalaninya. perjalanan yang mesti di lewati untuk kemudian mati.
pagi di hari yang sama saya membaca buku itu, saya merasa ada yang redup dalam diri saya. semangat hidup. vitalitas untuk menjalani hari. segalanya redup. tujuan hidup saya, apa yang penting untuk saya, kepedulian saya, semangat untuk berprestasi, semangat untuk belajar, redup pula keinginan saya untuk melakukan sesuatu karena saya punya keterampilan untuk itu, redup pula keinginan saya untuk jadi bagian dari dunia yang indah ini. semua redup. nyaris padam.
saya merasa apa yang saya pelajari sudah cukup, saya sudah cukup punya kawan, saya sudah cukup melihat dunia. mungkin saya cuma ingin sendiri.
tapi kekosongan itu membuat saya tidak nyaman. bukan ini yang seharusnya saya jalani. hidup ini harus di buat berarti bukan? dan semangat Gie seperti menohok diri saya. menampar saya. apa yang sudah saya lakukan di masa muda saya?
Ada juga satu kalimat dalam kata pengantar dari Dekan F. Sastra waktu itu yang membuat saya berpikir. kalimat itu kira-kira begini, mahasiswa adalah masa peralihan di mana nantinya kita mahasiswa ini dituntut menjadi manusia dewasa yang bertanggung jawab. ya saya setuju. apa yang membuat beberapa mahasiswa begitu sulit menyelesaikan skripsi? karena setelah lulus mereka akan jadi manusia yang punya tanggung jawab lain. saya mengamati orang-orang sekeliling saya, kebanyakan mereka sedang bertanya, mau apa setelah ini, apa yang penting dalam hidup ini, untuk apa kita jadi manusia, mengapa dunia begitu membingungkan, pertanyaan-pertanyaan itu membuat beberapa orang menjadi lelah dan kemudian nyaris menyerah. menjadikan mereka zombie-zombie seperti saya.
dan ini memang masanya.
****
dan aku jadi ingat kamu. dulu ketika melihat seseorang punya skill kepemimpinan yang baik, cerdas, bekerja secara kongkrit, sangat potensial untuk menjadi orang sukses kita bilang mereka akan jadi orang besar. tapi saat ini aku ragu akan hal itu. mereka akan jadi hebat jika mereka melewati masa ini dengan gemilang. itu keyakinanku sekarang.
melihat sekeliling termasuk melihat aku dan kamu membuat aku sadar memang ini masanya. masa dewasa muda bukan cuma sekedar masa yang digenapi dengan mempunyai pasangan intim sebagai belahan jiwa. mengisi kekosongan yang jamaknya lebih terasa kosong di masa dewasa muda di banding tahap perkembangan lain. bukan itu saja. masa ini adalah masa kita mencari jawaban-jawaban tentang akan kemana hidup kita, apa yang penting dalam hidup ini, bagaimana aku akan menjalani hidupku.
termasuk pula masa kita belajar menerima bahwa setelah ini kita adalah manusia yang mau tidak mau dituntut untuk bertanggung jawab. bertanggung jawab terhadap kelangsungan generasi kita, bertanggung jawab untuk menjadi generasi yang menggerakan dunia, bertanggung jawab pada manusia-manusia pendahulu kita. bahwa kita tidak bisa menjadi anak kecil yang bisa main di padang, pulang, tidur dan main lagi keesokkan harinya. ya semua itu aku paham betul. tapi itu pula yang membuat aku lelah. masa ini... masa penuh pertanyaan, dan ujian.
dan aku jadi ingat kamu. yang katanya mau menyerah saja. ah aku begitu pula.... masa ini, ingin segera ku akhiri...
tapi aku juga mau bilang, jangan menyerah yuk. kita pasti temukan jawabannya, lewati ujian ini. mungkin kita tidak di takdirkan untuk menjadi orang hebat yang namanya berkumandang. lagian buat apa artinya kumadang nama. tapi jika kita 'lulus' di masa ini, setidaknya kita mati untuk berarti.
walaupun aku juga tak tau bagaimana kalahkan kekosongan ini, bagaimana mengembalikan cahaya yang nyaris padam. aku juga ngga tau...
Subscribe to:
Posts (Atom)