--Oleh Anis Matta
Suatu saat dalam sejarah cinta kita
Kita saling memunggungi
Tapi jiwa berpeluk-peluk
Senyum mendekap senyum
Suatu saat dalam sejarah cinta kita
Raga tak lagi saling membutuhkan
Hanya jiwa kita sudah lekat menyatu
Rindu mengelus rindu
Suatu saat dalam sejarah cinta kita
Kita hanya mengisi waktu dengan cerita
Mengenang dan hanya itu
Yang kita punya
Suatu saat dalam sejarah cinta kita
Kita mengenang masa depan kebersamaan
Kemana cinta kan berakhir
Di saat tak ada akhir
8/14/2005
Rumi tentang Hallaj
Ambillah perkataan ini [ana’l-haqq], "akulah kebenaran kreatif." Banyak orang menganggap ini suatu pernyataan besar, tapi mengatakan "Akulah kebenaran kreatif" sesungguhnya merupakan suatu tanda dari kerendahan hati yang sangat ekstrem. Mengatakan "Aku adalah hamba Tuhan" berarti menyatakan bahwa ada dua yang eksis, yang satu dirinya sendiri dan yang lain adalah Tuhan. Tapi ketika seseorang mengatakan, "Akulah Tuhan", itu berarti, "Aku bukan apa-apa. Dia adalah segalanya, tidak ada sesuatu pun kecuali Tuhan, aku sepenuhnya dan mutlak tiada, aku bukan apa-apa", maka kerendahan hati itu pun lebih besar lagi.
--dalam dalam Annemarie Schimmel (1998)
--dalam dalam Annemarie Schimmel (1998)
Bagaimana Saya Akan Menulisi Blog Ini?
Pertanyaan itu masih saja sering muncul walaupun saya sudah beberapa kali menulis blog.
Di awal saya membuat blog, seorang teman berkomentar, katanya apa yang saya tulis sama saja seperti yang biasa saya ceritakan ke dia. Cara saya bertutur sama seperti ketika saya berefleksi tentang hidup, ngunandika pada diri sendiri. Dia juga berpendapat bahwa blog hendaknya bisa jadi sarana buat saya belajar untuk menulis. Saya sepenuhnya setuju.
Tidak bisa dipungkiri bahwa komentar tersebut berpengaruh pada saya. Dua komentar tersebut saling berhubungan satu sama lain. Saya menginterpreatasikan bahwa tulisan saya saat itu bukanlah tulisan yang cukup baik. Padahal blog hendaknya dapat dijadikan sebagai saran untuk belajar menulis. Sebelum ia mengatakan itu, saya juga tidak cukup puas dengan tulisan saya di blog itu sehingga saya lalu memutuskan untuk me-delete http://cinintyadewi.blogspot.com. Saya menggantikannya dengan yang baru.
Ternyata pengaruh komentar itu tidak hanya sampai di situ, keinginan untuk membuat tulisan yang bagus untuk dipubliksinya malah menghambat saya untuk menulis. Beberapa kali saya punya ide tapi segera saya kandaskan sendiri. Tak ada publikasi untuk tulisan buruk pikir saya. Begitu seterusnya sampai kemudian saya belajar untuk tidak memikirkan itu dan membiarkan jari-jari saya mengetik apa yang ingin saya ketik.
Sampai hari ini saya masih juga setuju pada pendapat teman saya itu. Blog adalah sarana untuk belajar menulis. Namun yang berbeda saat ini adalah sikap saya terhadap komentar yang pertama. Jika saya menulis seperti saya bercerita pada seorang teman ya memang itu yang ingin saya tulis. Jika kata-kata saya standar dan biasa, mungkin saat ini kemampuan saya baru sampai di situ. Tapi belajar menulis adalah suatu proses. Proses menemukan gaya menulis khas saya. Menemukan cara penulisan yang dapat menyampaikan pesan utuh pada pembaca. Menemukan bentuk tulisan yang mengena, menarik dan sebagai, dan sebagainya. Dan semua itu bisa ditemukan kalau saya mulai menulis. Menulis apa saja yang ada di pikiran saya. Dan membiarkan saya menikmati proses belajar ini. Sampai suatu ketika saya menemukan sendiri apa yang saya cari.
Seperti sudah saya bilang sampai saat ini saya masih bertanya-tanya tentang bagaimana saya akan menulisi blog ini? Tapi bedanya kalau dulu pertanyaan itu representasi dari konflik dalam diri antara keinginan membuat tulisan bagus dengan hasrat untuk menulis apa saja yang terlintas. Dimensinya kualitas. Saat ini pertanyaan itu muncul mengenai apa yang ingin saya berikan pada orang lain. Dimensinya isi. Apakah saya akan menulis curahan hati saya sebagai bentuk katarsis, pikiran-pikiran saya tentang sesuatu, refleksi-refleksi saya pada hidup, hal-hal menarik yang ingin saya bagi, atau apa.. Yah saya juga belum tau. Tapi saya tetap akan menulis apa yang ingin saya tulis. Ngunandika.
Di awal saya membuat blog, seorang teman berkomentar, katanya apa yang saya tulis sama saja seperti yang biasa saya ceritakan ke dia. Cara saya bertutur sama seperti ketika saya berefleksi tentang hidup, ngunandika pada diri sendiri. Dia juga berpendapat bahwa blog hendaknya bisa jadi sarana buat saya belajar untuk menulis. Saya sepenuhnya setuju.
Tidak bisa dipungkiri bahwa komentar tersebut berpengaruh pada saya. Dua komentar tersebut saling berhubungan satu sama lain. Saya menginterpreatasikan bahwa tulisan saya saat itu bukanlah tulisan yang cukup baik. Padahal blog hendaknya dapat dijadikan sebagai saran untuk belajar menulis. Sebelum ia mengatakan itu, saya juga tidak cukup puas dengan tulisan saya di blog itu sehingga saya lalu memutuskan untuk me-delete http://cinintyadewi.blogspot.com. Saya menggantikannya dengan yang baru.
Ternyata pengaruh komentar itu tidak hanya sampai di situ, keinginan untuk membuat tulisan yang bagus untuk dipubliksinya malah menghambat saya untuk menulis. Beberapa kali saya punya ide tapi segera saya kandaskan sendiri. Tak ada publikasi untuk tulisan buruk pikir saya. Begitu seterusnya sampai kemudian saya belajar untuk tidak memikirkan itu dan membiarkan jari-jari saya mengetik apa yang ingin saya ketik.
Sampai hari ini saya masih juga setuju pada pendapat teman saya itu. Blog adalah sarana untuk belajar menulis. Namun yang berbeda saat ini adalah sikap saya terhadap komentar yang pertama. Jika saya menulis seperti saya bercerita pada seorang teman ya memang itu yang ingin saya tulis. Jika kata-kata saya standar dan biasa, mungkin saat ini kemampuan saya baru sampai di situ. Tapi belajar menulis adalah suatu proses. Proses menemukan gaya menulis khas saya. Menemukan cara penulisan yang dapat menyampaikan pesan utuh pada pembaca. Menemukan bentuk tulisan yang mengena, menarik dan sebagai, dan sebagainya. Dan semua itu bisa ditemukan kalau saya mulai menulis. Menulis apa saja yang ada di pikiran saya. Dan membiarkan saya menikmati proses belajar ini. Sampai suatu ketika saya menemukan sendiri apa yang saya cari.
Seperti sudah saya bilang sampai saat ini saya masih bertanya-tanya tentang bagaimana saya akan menulisi blog ini? Tapi bedanya kalau dulu pertanyaan itu representasi dari konflik dalam diri antara keinginan membuat tulisan bagus dengan hasrat untuk menulis apa saja yang terlintas. Dimensinya kualitas. Saat ini pertanyaan itu muncul mengenai apa yang ingin saya berikan pada orang lain. Dimensinya isi. Apakah saya akan menulis curahan hati saya sebagai bentuk katarsis, pikiran-pikiran saya tentang sesuatu, refleksi-refleksi saya pada hidup, hal-hal menarik yang ingin saya bagi, atau apa.. Yah saya juga belum tau. Tapi saya tetap akan menulis apa yang ingin saya tulis. Ngunandika.
Hatta suka sekali membaca, waktu dibuang ke Digul, dia bawa enambelas peti yang isinya buku-buku. Sejak mengeyam pendidikan, dia juga suka menulis. Gie juga suka menulis. Soekarno juga, sampai-sampai dia ditangkap karena tulisannya. Saya lalu berpikir kenapa jaman sekarang, jarang mahasiswa melakukan ‘perlawanan’ dengan menulis. Paling demo di jalan. Mungkin mereka ini seperti saya yang menulis makalah atau skripsi saja membuat takut karena tidak terbiasa.. atau mungkin orde baru telah membungkam bangsa ini seperti mereka ‘membungkam’ Mochtar Lubis. Kebiasaan menulis menguap di angkasa...
8/12/2005
Secangkir kopi dan Obrolan pagi
Dinda: he eh..
Nona: coba ya.. mmm.. vanila ya? enak..
Dinda: gimana kabar hati lo hari ini?
Nona: ngga tau.. lo?
Dinda: gw merasa lebih damai. gw mendapatkan diri gw lagi. gw yang dulu.
Nona: iya... gw menikmati lagi rutinitas gw seperti semula. skripsi udah selesai.
habis ini mau ngapain..
Dinda: ngga tau.. kerja pastinya..
Nona: gw yakin kita pasti dapat kerjaan yang baik.
Dinda: mmm... kuliah profesi mahal betul.. kapan uangnya ke kumpul ya?
Nona: ... bener loh gw pingin kerja di luar, gajinya lumayan. bisa nabung.
Dinda: iya gw juga... ke Kalimantan..
Nona: gw sih ngga harus ke luar pulau, di Jawa juga mau. tapi yang masih 'Desa'. Ke Surabaya.
Dinda: mmm... Tapi sebenernya gw masih pingin di kampus. haa...
8/11/2005
Hatta

Hari ini, seratustiga tahun yang lalu Muhammad Hatta lahir..
Hatta, bung Hatta, salah satu pahlawan nasional yang paling gw kagumi... kejujurannya, kedisiplinnya, kesederhanaannya, pemikiran dan tekadnya yang kuat untuk membawa bangsa menjadi lebih baik. Membentuk karakter bangsa... katanya, mencari manusia yang pintar lebih mudah daripada mencari manusia yang berkarakter. Manusia yang tidak mementingkan diri sendiri, tetapi mau berkorban demi kemajuan bangsa dan negara. Dan yang paling penting manusia yang tidak rendah diri-Menjadi tuan di negeri sendiri. Manusia yang tidak terlena dengan utang luar negri...
Dua hari yang lalu di tempat nongkrong anak 2001, temen gw menyayangkan pengunduran diri Hatta sebagai wakil presiden tahun ’56. Dia bilang kalau Hatta tidak mundur mungkin dia bisa memperbaiki sistem. Alih-alih negara akan menjadi lebih baik daripada sekarang. Dia juga merindukan sosok pemimpin yang bisa jadi teladan seperti beliau. Dia bilang, bangsa Indonesia saat ini butuh orang macam beliau, pemimpin seperti Hatta. Ah ya..
Sudah bertahun-tahun Hatta wafat. Tapi gw seperti juga temen gw itu masih juga bersedih. Meratap.. seolah-olah Hatta baru saja meninggal. Tapi gw kira kesedihan kami cukup beralasan. kalau diingat, saat ini, siapa sosok yang bisa jadi teladan? siapa yang kejujuran, kedisiplinan dan tanggungjawabnya santer ke seentero negri macam Hatta?
Esoknya di rumah, gw denger satu lagu dari Iwan Fals. Manusia yang berkualitas memang tidak perlu berkata... saya jujur atau saya bijak. Orang lain bisa menilainya sendiri. kualitas manusia berkarakter akan terpancar dengan sendirinya. Ketika mereka tiada, eksistensinya tetap ada di hati orang-orang yang mengaguminya.
Tuhan terlalu cepat semua
Kau panggil satu-satunya yang tersisa
Proklamator tercinta
Jujur, lugu dan bijaksana
Mengerti apa yang terlintas dalam jiwa
Rakyat Indonesia
Hujan air mata dari pelosok negri saat melepas engkau pergi
Berjuta kepala tertunduk haru
Terlintas nama seorang sahabat yang tak lepas dari namamu
Terbayang baktimu
Terbayang jasamu
Terbayang jelas jiwa sederhanamu
Bernisan bangga, Berkafan doa
Dari kami yang merindukan orang sepertimu...
8/10/2005
Cerita dari MariPro
tadi sewaktu aku ngambil foto di Mari Pro, dengan ramah masnya tanya aku ambil jurusan apa. waktu aku jawab psikologi, dia langsung berbicara tentang Satre, Jean Paul Satre, eksistensialis prancis yang tidak percaya pada Tuhan. masih dengan ramah dia ungkapkan pendapatnya tentang Satre. dia katakan persetujuannya pada pandangan Satre tentang manusia kecuali ketidakpercayaannya pada Tuhan. aku senyum-senyum saja. diam. setelah itu ada Kierkegaard, Camus (Albert Camus), Heidegger yang keluar dari mulutnya. aku masih diam dan senyum-senyum sendiri. takut salah ngomong. akhirnya aku tanya juga, apa dia suka baca buku filsafat atau psikologi, dengan merendah dia bilang "ah.. cuma lewat-lewat gitu aja". hahaha... aduh! sebenernya aku senang banget ketemu dia. rasanya pingin diajak ngobrol aja. tapi aku takut juga. biar dia kelihatan merendah dan bilang tidak tau apa-apa. jangan-jangan bukan dialog yang selevel lagi. hihihi.. takut.
tapi yang bikin senang ya itu, pembicaraan tak terduga dari penjaga studio foto. ah berpendidikan betul. mungkin mahasiswa megister filsafat kali ya? hahaha.... ngga tanya sih. sungkan.
aku jadi sadar kalau orang-orang seperti dia selalu menarik buatku. kalau diingat-ingat orang-orang yang memberi inspirasi dalam hidupku ya orang-orang seperti dia. bisa jadi dia memang penyuka filsafat, orang yang membaca buku-buku filsafat. Tapi orang-orang yang mengkonstruk filosofi hidupnya sendiri juga selalu menarik buatku. mungkin saja dia tukang koran langganan, teman kuliah, teman dunia maya atau orang asing di perjalanan. mereka memberi warna dalam kehidupanku.
orang-orang inilah yang menggunakan akalbudinya, menggunakan 'kemanusiaannya'. memerdekakan pikirannya untuk menjelajah 'Dunia'. memberi makna pada Dunia di sekitarnya, memberi makna pada Dirinya. Dan mereka-mereka inilah manusia yang sesungguhnya.
tapi yang bikin senang ya itu, pembicaraan tak terduga dari penjaga studio foto. ah berpendidikan betul. mungkin mahasiswa megister filsafat kali ya? hahaha.... ngga tanya sih. sungkan.
aku jadi sadar kalau orang-orang seperti dia selalu menarik buatku. kalau diingat-ingat orang-orang yang memberi inspirasi dalam hidupku ya orang-orang seperti dia. bisa jadi dia memang penyuka filsafat, orang yang membaca buku-buku filsafat. Tapi orang-orang yang mengkonstruk filosofi hidupnya sendiri juga selalu menarik buatku. mungkin saja dia tukang koran langganan, teman kuliah, teman dunia maya atau orang asing di perjalanan. mereka memberi warna dalam kehidupanku.
orang-orang inilah yang menggunakan akalbudinya, menggunakan 'kemanusiaannya'. memerdekakan pikirannya untuk menjelajah 'Dunia'. memberi makna pada Dunia di sekitarnya, memberi makna pada Dirinya. Dan mereka-mereka inilah manusia yang sesungguhnya.
Self-Management pada Survivor Kekerasan dalam Rumah Tangga
---ABSTRAK---
Survivor Theory mengungkapkan adanya peran aktif perempuan yang mengalami KDRT dalam usahanya menyelamatkan diri dan anak mereka untuk keluar dari situasi kekerasan. Mereka tidak dilihat sebagai individu yang pasif dan menyerah pada keadaan seperti yang diungkap oleh penelitian sebelumnya. Self-management merupakan konsep yang menjelaskan manusia sebagai mahluk yang aktif dalam mencapai tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran usaha-usaha yang dilakukan oleh survivor KDRT dalam kerangka self-management. Untuk itu peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara dan observasi sebagai penunjang. Hasilnya menunjukkan bahwa self-management diarahkan sebagai bentuk respon terhadap kekerasan juga sebagai usaha-usaha untuk mencapai tujuan-tujuan yang paling penting dalam hidup, pengarahan kognisi merupakan bentuk self-management yang dominan digunakan oleh semua subyek. Penelitian lanjutan dapat dilakukan dengan memvariasikan latar belakang pendidikan, derajat kekerasan. Penelitian tentang KDRT juga sebaiknya diarahkan menuju pencarian kekuatan perempuan korban kekerasan dalam menghadapi situasi rentan kekerasan.
Dewi, C. (2005). Self-Management pada Survivor Kekerasan dalam Rumah Tangga. Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
Bagi yang tertarik untuk mengetahui penelitian ini dapat mengirimkan email ke skripsicinin01@yahoo.com.
Cinin Thanks to...
saya selalu merasa percaya pada diri sendiri. yakin bahwa pusat dunia (dunia diri) adalah diri saya sendiri. yakin bahwa sebuah keberhasilan ditentukan oleh faktor-faktor internal dalam diri saya. saya adalah kapten untuk diri saya sendiri. saya adalah mahluk aktif yang senantiasa menentukan pilihan-pilihan dalam hidup saya. saya menjadi (becoming) karena saya memilih untuk seperti itu. Saya adalah Saya karena saya ingin seperti itu.
Hanya saja tidak bisa dipungkiri bahwa, selalu saja saya merasa ada faktor X yang menentukan hidup saya, ada hal-hal lain di luar diri saya yang menularkan energinya untuk saya serap dan menggerakkan saya. Faktor X itu berdialog dengan Diri saya dan mengajaknya berpetualang di Dunia.
dan pada agen faktor-faktor X itulah saya berucap terima kasih atas selesainya skripsi saya.
Yang pertama dan utama, Tuhanku, Allah sang pemberi jiwa dan pemberi petunjuk.
Terima kasih untuk Mas Aten, Bu Bernadetta, mba Liche, Mba Dini, Mba Tia, Mba Fivi, Bu Mayke, semua dosen serta guru-guru yang telah mengantarkan saya menuju jalan pengetahuan.
Untuk teman-temanku, Dini, Ine, Dina, Dodo, atas semangat, dukungan dan doa yang menjadi energi dikala lelah. Teman-teman sepayung: Arum, Dipan, Darma, Aca, Mas Ari dan Mas Edi. Terima kasih pula untuk seluruh teman-teman angkatan 2001, khususnya Ika dan Wandi serta teman-teman MKT: Alga, Ana, Epi, Eva, dan Nuyi. Juga untuk teman-teman lain di Fakultas Psikologi (Verdi, Kak Surya, Mba Nia, Mba Lela, Mba Novi) dan teman-teman di Pusat krisis Fakultas Psikologi UI (Mba Icha, K Wahyu, Nael, K Eja).
Serta semua pihak yang telah membantu penyelesaian skripsi saya, petugas perpusatakaan fakultas psikologi, petugas lab. Komputer, teman-teman di PKT RSCM, Indok. Jurnal Perempuan, temen-teman di Perpustakaan Kalyanamitra dan teman-teman relawan CC UNICEF Padang Panyang, Aceh.
Terima kasih saya terutama untuk seluruh keluarga, tempat berlabuh dalam situasi apapun. Papa dan Mama, terima kasih telah memberikan kebebasan dan kepercayaan untuk memilih jalan hidup Dewi sendiri. Untuk adikku sayang, Arief (woi, jelek! =p)
dan semua orang yang menularkan insight untuk saya, menularkan kepekaan dan rasa sayang, menampar saya dengan kasih, dan berkata pada saya bahwa saya pasti bisa. terimakasih... =)
semangat!!!
Hanya saja tidak bisa dipungkiri bahwa, selalu saja saya merasa ada faktor X yang menentukan hidup saya, ada hal-hal lain di luar diri saya yang menularkan energinya untuk saya serap dan menggerakkan saya. Faktor X itu berdialog dengan Diri saya dan mengajaknya berpetualang di Dunia.
dan pada agen faktor-faktor X itulah saya berucap terima kasih atas selesainya skripsi saya.
Yang pertama dan utama, Tuhanku, Allah sang pemberi jiwa dan pemberi petunjuk.
Terima kasih untuk Mas Aten, Bu Bernadetta, mba Liche, Mba Dini, Mba Tia, Mba Fivi, Bu Mayke, semua dosen serta guru-guru yang telah mengantarkan saya menuju jalan pengetahuan.
Untuk teman-temanku, Dini, Ine, Dina, Dodo, atas semangat, dukungan dan doa yang menjadi energi dikala lelah. Teman-teman sepayung: Arum, Dipan, Darma, Aca, Mas Ari dan Mas Edi. Terima kasih pula untuk seluruh teman-teman angkatan 2001, khususnya Ika dan Wandi serta teman-teman MKT: Alga, Ana, Epi, Eva, dan Nuyi. Juga untuk teman-teman lain di Fakultas Psikologi (Verdi, Kak Surya, Mba Nia, Mba Lela, Mba Novi) dan teman-teman di Pusat krisis Fakultas Psikologi UI (Mba Icha, K Wahyu, Nael, K Eja).
Serta semua pihak yang telah membantu penyelesaian skripsi saya, petugas perpusatakaan fakultas psikologi, petugas lab. Komputer, teman-teman di PKT RSCM, Indok. Jurnal Perempuan, temen-teman di Perpustakaan Kalyanamitra dan teman-teman relawan CC UNICEF Padang Panyang, Aceh.
Terima kasih saya terutama untuk seluruh keluarga, tempat berlabuh dalam situasi apapun. Papa dan Mama, terima kasih telah memberikan kebebasan dan kepercayaan untuk memilih jalan hidup Dewi sendiri. Untuk adikku sayang, Arief (woi, jelek! =p)
dan semua orang yang menularkan insight untuk saya, menularkan kepekaan dan rasa sayang, menampar saya dengan kasih, dan berkata pada saya bahwa saya pasti bisa. terimakasih... =)
semangat!!!
8/08/2005
Subscribe to:
Posts (Atom)

